Kasih untuk NTT Korban Badai Siklon Catatan Rtn Budi Laksono Part 2

Kasih untuk NTT Korban Badai Siklon Catatan Rtn Budi Laksono Part 2

KASIH UNTUK NTT

PULAU SEMAU, PUSAT PUTARAN SIKLON NTT. SUPPORT SERVICE

Pulau Semau adalah pulau kecil di depan Pulau Timor. Ketika ada badai, bisa kita lihat dari laporan satelite, tepat di tengah pusaran badai. Mungkin kita pikir dampak nya berat. Itulah mengapa kami pada hari Kamis, 15 April 2021 ke sana bersama Rotarian Nazly dari Rotary Club Metropolitan Jakarta, untuk menyampaikan uluran kasih dari temannya di Jakarta pada masyarakat. Dari laporan asesment, banyak tanaman masyarakat rusak sehingga mengganggu ekonomi warga. Beberapa rumah terdampak, memang tak ada korban.

Nazly belanjakan donasi untuk beras kualitas terbaik bagi warga, semobil pickup diisi beras. Jam 06.30 WITA sopir jemput kami di basecamp sehingga jam 7 sudah bersama ke pelabuhan. Tidak jauh, 30 (tiga puluh) menit kami sampai. Di pelabuhan, ternyata info kapal ferry akan berangkat jam 9, maka kami tunggu. Dok kapal ada 2 (dua), tapi yang satu rusak kena badai dan membuat sebuah feri tenggelam beberapa minggu lalu. Feri ke pulau Rote belum keluar jadi menunggu. Jam 12.00 WITA baru siap dan mobil kami bisa masuk ferry yang segera berangkat. Perjalanan tidak lama, sekitar 20 menit saja. Belum puas nikmati laut, sudah harus turun.

Ketika mau turun, ternyata air masih pasang. Persoalannya, antara bibir dermaga dan kapal ada perbedaan tinggi muka sehingga jembatan kapal ke dermaga sangat tajam. Truk yang ada di depan pun tak bisa turun. Kami harus tunggu laut menurun airnya. Kapan? Pak petugas bilang, mungkin jam 3 atau 4 sore.

Kami usulkan pada Rotarian Nezly, agar pak lurah yang akan terima beras diminta datang dengan pickup dan muatan beras dipindah. Kita bisa ke desa dengan mobil tersebut. Akhirnya disetujui, Nezly telepon pak lurah dan pak lurah akan kirim mobil. Tetapi kami tunggu lebih sejam baru datang. Kami segera bawa beras ke desa, cuma 15 menit. Jarak cuma 3 km tapi jalan lagi diperbaiki. Kami serah terimakan beras dan sedikit pidato dan poto bersama lalu balik kapal.

Sampai kapal kami menunggu laut surut. Kami tidur-an diruang kapal dan beberapa saat kemudian, jam 4 sore dikabari bahwa air surut dan mobil keluar kapal. Kemudian mobil lain berganti masuk untuk berlayar menuju Kupang. 15 menit kemudian kami sampai di Kupang lagi dan menjelang buka puasa, kami sudah di pasar lauk di Solor. dan buka puasa disini.

Dari pengalaman ini, kami jadi ingat pesan Pak presiden tentang pentingnya waktu tunggu pelabuhan itu dipercepat. Bisa dibayangkan, hanya karena level dak kapal dan dermaga, kita tunggu lama dan tergantung cuaca, padahal dengan panggil tukang las lokal, disuruh membuat jembatan adaptor level dermaga, dan itu tak lebih puluhan juta, maka tak perlu waktu tunggu yang begitu extrem begini. Terima kasih. Kupang, 15 April 2021

 

DUSUN “SENDIRI” DESA POKDALE,  HEALTH SERVICE

Dusun Sendiri, Desa Pokdale 40 km dr Kupang ke arah Timur laut adalah Desa subur diantara 2 (dua) sungai di kanan dan kirinya, penghasil sayur dan padi. Jarang banjir, tapi kemarin banjir terlalu besar sehingga banyak sawah dan tanaman hancur. Beberapa rumah terutama rumah kayu hancur. Sejak bencana belum didatangi petugas kesehatan, kata pak RT. Katanya, karena arus sungai deras dan belum ada jembatan. Tetapi menurut kami, mungkin memang tak ada kasus berat yang emergensi harus dikunjungi petugas. Tidak ada korban manusia.     

Hari ini, jumat 16 april 2021, kami Ika Medika alumni FK Undip dan PDUI JATENG bersama team Rotary Club Kupang mengadakan kunjungan layanan kesehatan dan pembagian pakaian dan makanan, susu pada masyarakat. Perjalanan pertama ke Gereja Oesou karena relawan gereja ini yang menjadi kontak lapangan. Muda mudi gereja sangat aktif dan giat. Begitu kami datang, mereka menyambut hangat dan kemudian dengan mobil jimni 4×4 modifikasi nya kami dipandu ke desa. Kami sendiri dengan kijang tahun 1990-an yang masih terawat sehingga nyaman juga.

Perjalanan ke desa melewati bagian desa yang agak tinggi dimana padi hidup subur. Ada yang tersapu banjir tapi tumbuh lagi dengan subur, beberapa bahkan siap panen. Jembatan ke desa itu hampir terputus, masyarakat kerja  bakti memperbaikinya. Sampai ujung desa, kami berhenti dan memang dusun itu harus seberangi sungai. Biasanya sungai kering, tapi kini arus kuat. Itu mungkin alasan desa tidak dikunjungi petugas. Dalam 4 (emapt) hari ini jembatan sudah jadi, dari bambu, sangat goyang jadi harus hati hati. Relawan gereja yang bawa box obat, yang rata-rata muda mudi, agak takut-takut juga.     

https://www.instagram.com/p/COtyk0dBMCf/

Akhirnya jalan ke pusat desa dan kami membuka layanan kesehatan. Pertama sedikit yang datang, tapi begitu tahu ada layanan, orang kumpul dan meminta diobati. Umumnya mereka sakit capai, otot kaku, sendi sakit. pening. Mungkin ini karena beberapa hari ini kerja berat bersihkan rumah dan kebun. Setiap ada yang ngeluh pilek, batuk, demam, aku langsung kuatir covid. Maka anamnesa lebih hati-hati agar tidak under diagnose. Kami juga hati-hati dari resiko tertular. Kami sudah pakai masker double. Juga untung sudah vaksinasi penuh. Tapi walau begitu, harus waspada karena belum tentu jamin perlindungan penuh. Bila disuruh pilih, enak tidak beresiko layani ginian. Tapi kalau  tidak dilakukan, siapa lagi yang bisa bantu. Maka sambil Doa, semoga Allah Swt lindungi kami.

Ada pasien ibu, yang namanya jawa. Begitu dia di depan nyapa jawa, nama belakangnya asli Kupang. Dia nikah dengan orang sini, anaknya cakep dan pintar. Memang, anak silang suku sering lebih cakep.

.  

Hari ini walau jumat, kami sendirian, sehingga tak shalat jumat. Mana Panas hari ini sangat kuat. Aku dahaga tapi tidak haus, ketika kami lihat jam sudah pukul 2, maka optimis saja. Semoga puasa kami menambah rahmat Tuhan untuk sembuhkan yang sakit. Mereka semua tahu kami dari Jawa, biasanya muslim. Tapi mereka menghormati kami.

Kami pulang ke basecamp dan hampir waktu buka puasa, maka kami ajak relawan Hand Fortuna  yang ikut sebagai Rotaract temani buka puasa. Minum sirup, rasanya sumsum-sumsum kami terisi kembali. Karena mereka anak muda, maka di meja kami ada kurma, kami jadikan motivasi mereka menanam kurma seperti relawan Lombok. Mereka kami ajari kumpulkan biji kurma, besok kita semai seperti biasa kami lakukan. Semoga selama di NTT sudah tumbuh akarnya. Mereka janji, bila jadi dan berbuah, 10 tahun lagi, kami akan dikabari.

Rtn Budi Laksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *